Kamis, 21 April 2011

ANGGUNNYA "RUMAH JIWA"


                                Catatan ini hadir sebagai ungkapan KERESAHAN akan generasi muda, utamanya ANAK-anak tingkat USIA DINI yang masih membutuhkan BIMBINGAN dan TUNTUNAN orang tua. beberapa kasus akhir-akhir ini mengusika ketenangan, seperti pelecehan seksual oleh seorang anak kepada temannya dan perbuatan asusila lainnya dimana pelakunya adalah anak-anak usia dini karena mengkonsumsi video, gambar, dan cerita-cerita porno di warnet.


                               Bahaya era GLOBALISASI adalah ancaman, dan ini tidak lagi bersifat lokal atau nasional tetapi global. Kemajuan teknologi komunikasi yang khusus ditandai dgn ditemukan dan dipopulerkannya alat komunikasi tanpa kabel (internet,dll) sehingga mobilitas informasi jadi lebih tinggi dan jangkauan penyiarannya menjadi bersifat global dan mendunia. Dan setiap orang bebas mengakses informasi apapun sementara penyebaran informasi ini bebas nilai. Repotnya karena tata nilai merupakan sesuatu yang ada di dalam informasi, maka tata nilai pihak yg menguasai informasilah yang akan mendominasi. Penguasaan tata nilai ini tentu akan berakibat lanjut terhadap penguasaan cara pandang, cara bersikap, gaya hidup, dan seterusnya. Dan sekali lagi ini bersifat global dan mendunia.

                                 PERANG NILAI yang datang diam-diam karena senjatanya adalah materi-materi hiburan yang hadir bersama perangkat teknologi. Korbannya adalah KEPALA dan HATI kita, KELUARGA kita, dan ANAK-ANAK. Rumah tidak dapat lagi menjadi HIJAB karena alat-alat komunikasi itu tersimpan di dalam RUMAH kita.
 

                                         Dalam konteks ini yang terpenting yang harus diupayakan adalah pengembangan rumah jiwa. RUMAH JIWA itu tidak material, tetapi terletak di dalam diri orang-orang beriman.

                                Di dalam rumah jiwa ini terdapat kreativitas pencipta kehangatan dalam keluarga yang lebih menarik daripada di internet, dan terdapat tempat berlabuh yang kokoh, dominan dan menghadirkan rasa aman lebih daripada kantor polisi.

                                       Dalam rumah jiwa ini, nilai-nilai luhur tidak dipermainkan atau dipaksakan, tetapi diselami, dinikmati, dan dijadikan diri, melalui kehangatan totalitas dialog antara para pesona dalam anggota keluarga. Dalam rumah jiwa ini terdapat rujukan yang jelas tentang nilai-nilai yang boleh diakui dan yang tidak

                                  Bagi pengembangan rumah jiwa ini sudah pasti dibutuhkan pengukuhan rumah juga sebagai khalwat dari cecaran informasi. Selain itu dibutuhkan jiwa jiwa yang mampu menjadi pejuang dalam perang besar dalam diri hingga tercapai pengetahuan akan hakikat diri dan kehendak Allah.

                                   Pengetahuan ini akan memampukan seseorang untuk mengambil jarak dari pengaruh informasi yang setiap saat dapat melumpuhkan diri dan keluarga, melalui pengetahuan yang di dapatnya.

                               Pesona tempat RUMAH JIWA ini dapat berkembang, tentu saja, adalah WANITA SHOLEHAH

7 komentar: