Selasa, 12 April 2011

DEKADENSI MORAL

Dekadensi moral merebak dimana-mana. Pergaulan pria-wanita dalam masyarakat tidak lagi menghasilkan kerja sama untuk membangun masyarakat, melainkan berubah menjadi ajang persaingan dan pelampiasan naluri seksual tanpa aturan. Hal ini disebabkan karena pergaulan mereka tidak lagi di dasari pemahaman akan tujuan penciptaan naluri seksual pada dua jenis pria dan wanita, tapi mereka hanya memandang hubungan keduanya sebagai hubungan jenis antara laki-laki dan perempuan semata

Dekadensi moral merebak dimana-mana. Pergaulan pria-wanita dalam masyarakat tidak lagi menghasilkan kerja sama untuk membangun masyarakat, melainkan berubah menjadi ajang persaingan dan pelampiasan naluri seksual tanpa aturan. Hal ini disebabkan karena pergaulan mereka tidak lagi di dasari pemahaman akan tujuan penciptaan naluri seksual pada dua jenis pria dan wanita, tapi mereka hanya memandang hubungan keduanya sebagai hubungan jenis antara laki-laki dan perempuan semata

Ketika muncul berbagai kejahatan seksual, mulai dari pornografi, pelecehan seksual kecil-kecilan hingga kasus perkosaan, semua orang ribut dan mulai saling menyalahkan. Para wanita menyalahkan pria dengan mengatakan bahwa kondisi ini menunjukkan betapa wanita masih dianggap rendah dan terhina, dan kaum pria pun tak kalah berangnya melemparkan kesalahan ini pada wanita yang mereka anggap sebagai biang keladi kekacauan ini, dengan mempertontonkan aurat mereka

sebagian orang juga sibuk mencari definisi pornografi dan seni dan apakah hubungan seksual yang di lakukan suka sama suka termasuk pemerkosaan atau bukan? Dan sbagian yang lain ribut menyalahkan hukum yang tidak berdaya mengerem semuanya. BAYANGKAN, BETAPA REPOTNYA MEREKA, padahal inilah hasil dari jalan yang mereka tempuh

sebenarnya semua problema sosial di atas tidak akan terjadi seandainya syariat islam atau syariat agamabenar-benar diamalkan, atau kaum muslimin/muslimah benar2 mengamalkan ajaran agamanya

tetapi kenyataannya para ulama dan kampus-kampus serta mahasiswa yg nota bene mempelajari islam, di cengkeram kuat oleh paradigma materialisme, positivistik, dan lain lain. Para muslimah mulai nampak dengan HIJABnya yang disertai dengan TABARRUJ, ulama kita yang menjadikan tugasnya sebagai PROFESI/mata pencaharian. Mahasiswa/i fakultas agama yang lebih dalam mempelajari agama malah memberi citraan yang tidak "layak". Ditambah lagi dengan pejabat-pejabat kita yang mengatasnamakan diri sebagai wakil rakyat yang berideologi islam, justru kehadirannya semakin membuat rumit kesederhanaan islam, yang tidak perlu menjadi perlu dan yang perlu menjadi tidak diperlukan.

Sungguh citraan ini bukan semata kritikan terhadap keseluruhan itu, tetapi besar harapan saya untuk mengajak saudara dan teman-teman sekalian khususnya muslimah untuk lebih memperhatikan diri dari segi PENCITRAAN, PENEGASAN DIRI sebagai seorang muslimah yang BERKARAKTER KUAT. Jagalah HIJAB dan kokohkan makna HIJAB serta citra kemuslimahan dimana pun, di DUNIA NYATA atau DIDUNIA MAYA

karena karakter dan pencitraan yang kuat tidak hanya menjaga diri pribadi kita, tetapi sesungguhnya menjaga KONSTRUK-KONSTRUK ILAHIAH, dan menggeser KONSTRUK MATERIALIS. Bukankah wanita adalah tiang negara, dibalik kesuksesan laki-laki ada wanita yang berperan penting, kita memang tidak bisa menjadi nabi tapi kita mampu melahirkan dan mendidik seorang laki-laki untuk yang berkarakter nabi, jangan risau dengan ISU PERSAINGAN PERAN, karena sesungguhnya peranmu lebih mulia, dan kemuliaanmu adalah kekuatan yang Maha Dahsyat.

Terjadinya dekadensi moral hari ini adalah tanggung jawab kita juga, khususnya pada citraan diri kita sebagai seorang muslimah, dan tugas kita sebagai seorang ibu / calon ibu yang melahirkan dan mendidik generasi masa depan. Akan kita nanti peradaban yg lebih baik, dan terlepas dari belantara peradaban hari ini

3 komentar: