Rabu, 27 April 2011

"SUPER WOMAN"

 Ummu Sulaim berkata: “Beberapa waktu lalu engkau telah diberi amanat oleh seseorang. Sekarang telah aku kembalikan amanat tersebut kepada pemiliknya. Engkau tidak merasa khawatir khan?”. “Kenapa aku harus merasa khawatir, memang sudah semestinya sebuah amanat harus dikembalikan kepada pemiliknya”, jawab Thalhah. Mendengar hal itu lantas Ummu Sulaim melanjutkan ucapannya; “Allah swt telah menitipkan kepada kita amanat berupa seorang anak. Dan sekarang, amanat tersebut telah diambil kembali oleh Pemiliknya”. 
------------------------------------------------------------

‘Super-woman’

                            Ummu Sulaim adalah salah seorang perempuan yang telah masuk Islam semasa Rasulullah saww masih tinggal di Makkah dan belum hijrah ke Madinah. Ia dikenal sebagai salah satu sahabat setia Rasulullah saww. Salah seorang anak muda bernama Thalhah al-Anshari telah kehilangan istrinya (telah meninggal). Ia seorang laki-laki berparas tampan dan berasal dari keluarga terhormat.

                           Tidak lama setelah istrinya meninggal, ia melamar Ummu Sulaim. Sebenarnya Ummu Sulaim mencintai Thalhah, akan tetapi karena ia belum masuk Islam maka dengan tegas Ummu Sulaim dalam menjawab lamarannya berkata: “Aku akan menerima lamaranmu dengan syarat engkau harus masuk Islam terlebih dahulu”. Setelah itu Ummu Sulaim pun menjelaskan kepadanya tentang kesesatan penyembahan berhala. Akhirnya Thalhah masuk Islam dan menikahi Ummu Sulaim dengan mas kawin ‘masuk Islam’.

                          Setelah berapa lama dari pernikahannya, akhirnya mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang sangat dicintainya. Pada suatu hari, anaknya menderita penyakit parah yang berakhir dengan kematiannya. Padahal waktu itu, Thalhah sedang berada di luar rumah. Lantas Ummu Sulaim menutupi mayat anaknya dengan kain dan diletakkannya di sudut kamar.

                     Tidak lama kemudian Thalhah kembali ke rumahnya. Ummu Sulaim tidak memberitahukan kepada suami tentang kematian anaknya. Ia menyediakan dan menghidangkan makanan untuk suaminya. Selagi menyantap makanan, Thalhah menanyakan tentang kondisi anaknya kepada Ummu Sulaim; “Ia baik-baik saja dan sedang tidur”, jawab Ummu Sulaim.

                    Ummu Sulaim berusaha tetap tegar dan dalam keadaan ceria sehingga membuat suaminya senang dengan senyuman dan ucapannya. Kemudian Ummu Sulaim berkata: “Beberapa waktu lalu engkau telah diberi amanat oleh seseorang. Sekarang telah aku kembalikan amanat tersebut kepada pemiliknya. Engkau tidak merasa khawatir khan?”.

                “Kenapa aku harus merasa khawatir, memang sudah semestinya sebuah amanat harus dikembalikan kepada pemiliknya”, jawab Thalhah. Mendengar hal itu lantas Ummu Sulaim melanjutkan ucapannya; “Allah swt telah menitipkan kepada kita amanat berupa seorang anak. Dan sekarang, amanat tersebut telah diambil kembali oleh Pemiliknya”.

                        Thalhah sangat takjub saat menyaksikan ketabahan, kesabaran dan ketawakalan yang dimiliki oleh istrinya. Lantas ia berkata: “Seharusnya aku yang harus lebih sabar dan tabah darimu dalam menghadapi musibah ini”. Kemudian ia bangkit untuk memandikan, mengkafani dan menguburkan mayat anak yang sangat dicintainya tersebut.

[Euis D; Isytihardy, M Muhammady, Zanan Mardofarin-e Tarikh, hal:90]
sumber http://islamfeminis.wordpress.com/2007/05/02/super-women/

1 komentar: