Jumat, 30 September 2011

Ma Yan

Pertama kaLi menemukan bukunya, sudah muLai tertarik. ketika terbaca oLehku sebuah kaLimat "perjuangan dan mimpi gadis kecil miskin di pedalaman China untuk meraih pendidikan". dan tanpa ba bi bu Lagi, ku masukkan buku itu ke daftar beLanjaan di sebuah toko buku. sembari berpikir bahwa buku ini bisa menjadi bahan "bergaul" dengan LiLin2 Masa Depan di sekoLahku.

Namun seteLah membacanya, ada haL yang mengejutkan daLam pembahasannya. aku menemukan bahwa buku ini seLain membahas tentang perjuangan seorang gadis keciL, juga membahas tentang bagaimana seorang Ibu meyakini kemampuannya untuk mewujudkan mimpi-mimpinya dan cita-cita anaknya. dimana perjuangan ini bukan haL yang mudah karena ada sebuah upaya untuk mendobrak pemahaman awamnya tentang perempuan dan kemiskinan yang di aLaminya.

Bahwa menjadi seorang perempuan itu tidak mudah, waLaupun ia tidak harus pergi berperang, berburu, dan tidak mesti terLaLu pandai daLam arti tidak perLu bersekoLah. perempuan hanya perLu mendapatkan kepandaian apa adanya, LaLu segaLa persoaLan akan terseLesaikan dengan cara menikah Lewat perjodohan, meLahirkan anak-anak dan mendidiknya menjadi generasi penerus sebagaimana pendahulunya (orang tuanya). intinya bahwa seorang perempuan daLam pahaman Bai Juhua (Ibu Ma Yan), harus senantiasa patuh meski kepatuhan itu menempatkan dirinya pada hak-hak yang tereliminasi.

saLah satunya mengenai perjodohan, daLam tradisi china di Zhanjiashu seorang perempuan yang menoLak sebuah perjodohan yang diberikan maka kemungkinan besar ia akan mengaLami kesuLitan pada proses perjodohan seLanjutnya. oLeh karena itu ia harus mencari jodohnya sendiri, menemukan Laki-Laki yang bersedia menikah dengannya. biLa haL semacam ini terjadi, itu berarti suatu aib besar menimpa seLuruh keLuarga. di tambah Lagi Mao Zedong (Pemimpin Besar China periode 1958-1962) daLam ajarannya mengatakan bahwa "perempuan bagaikan penggaLan surga".

Sehingga daLam dirinya timbuL berbagai tanya seperti: mengapa aku tidak memiLiki hak untuk menentukan piLihanku sendiri? apaLagi menoLak piLihan yang ditentukan bagiku? mengapa yang kumiLiki hanya kepatuhan? apakah surga hanya berisi kepatuhan semata, sehingga aku sebagai penggaLannya harus senantiasa membawa serta kepatuhan itu kemana pun aku pergi??

Tetapi kemudian, reaLitas yang ia aLami memberi penegasan bahwa perempuan memang harus patuh waLaupun kepatuhan itu menempatkannya pada hak-hak yang tereLiminasi dan tersingkir dari keutamaan.
=================================

TO BE CONTINUED.........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar